Pengertian Filsafat adalah

Posted on

VOI.Co.Id –  Dalam kehidupan sehari-hari dan pembelajaran pengetahuan, kita sering mendengar kata filsafat. Namun, kita tidak sepenuhnya mengetahui maksud dan pengertian filsafat tersebut. Filsafat adalah sebuah ilmu pengetahuan dengan menggunakan pikiran logis (logika) sistem dan metode yang biasanya digunakan untuk mengkaji berbagai masalah umum yang sering terjadi.

Ada berbagai macam persoalan mengenai filsafat diantaranya adalah pengetahuan, eksistensi, bahasa, akal dan pikiran. Namun, masih banyak lagi pendapat mengenai filsafat yang dikemukakan oleh para ahli.

Tak sampai di pengertian filsafat saja, pembahasan mengenai filsafat masih banyak lagi mulai dari sejarah, makna, ciri, dan tujuan filsafat tersebut. Berikut ini merupakan pembahasan mengenai filsafat secara lengkap.

Pengertian Filsafat

pengertian-filsafat-adalah

Berdasarkan etimologi, kata “Filsafat” sendiri merupakan bahasa Yunani ari philosophia serta philoshophos. Philo memiliki arti cinta, sedangkan pada kata shopia, shopos memiliki arti pengetahuan, kebijaksanaan, serta hikmah. Dengan begitu, hal tersebut bisa disimpulkan bahwa pengertian filsafat adalah berbagai gagasan yang memiliki makna penuh dengan pengetahuan, kebijaksanaan, dan hikmah.

Adapun pendapat lain mengemukakan bahwa filsafat atau filosofi merupakan kebijaksanaan yang ada dalam kehidupan untuk memberikan pandangan menyeluruh mengenai ilmu ilmiah, refleksi serta pengalaman hidup. Sehingga filsafat bukanlah sebuah eksperimen, melainkan gagasan dari suatu permasalahan yang dibutuhkan sebagai solusi.

Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli

pengertian-filsafat-menurut-para-ahli

Para ahli telah mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian dari filsafat itu sendiri. Berikut ini merupakan pemikiran para ahli mengenai filsafat, diantaranya adalah:

1. Aristoteles

Menurut Aristoteles, pengertian filsafat adalah:

Ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang berisi ilmu metafisika, retorika, logika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan).

2. Cicero

Menurut Cicero,

Filsafat adalah ‘ibu’ dari semua seni (the mother of all the arts) dan merupakan seni kehidupan.

3. Plato

Menurut Plato:

Filsafat memiliki arti, yakni suatu ilmu yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang sebenarnya.

4. Imanuel Kant

Menurut Imanuel Kant, pengertian filsafat adalah

Suatu ilmu (pengetahuan) yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan yaitu metafisika, etika agama, dan antropologi.

5. Johann Gotlich Fickte

Menurut Johann Gotlich Fickte, pengertian filsafat adalah:

Dasar dari berbagai ilmu yang dilakukan dengan membicarakan seluruh bidang serta seluruh jenis ilmu agar mendapatkan pencarian kebenaran dari semua kenyataan.

Sejarah Perkembangan Filsafat

Sejarah-Filsafat

Pada abad ke-6 SM, filsafat telah dibangun dan berkembang berdasarkan pemikiran kefilsafatan. Ada banyak tokoh terkenal yang menjadi bagian dari sejarah ilmu filsafat dan berkontribusi besar terhadap peradaban.

Sejarah perkembangan filsafat berdasarkan periodisasi barat terbagi mulai dari zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman modern, hingga masa kini. Aliran yang muncul juga sangat banyak dan mempengaruhi pemikiran filsafat. Diantaranya adalah, Eksistensialisme, Pragmatisme, Marxisme, Positivisme, Fenomenologi, Neo Kantianianisme dan Neo-tomisme

Sejarah perkembangan filsafat berdasarkan periodisasi Cina terbagi pada zaman kuno, zaman pembauran, zaman Neo-Konfusionisme, dan. zaman modern. Filsafat Cina biasanya membahas tema mengenai masalah perikemanusiaan yang terjadi.

Sejarah perkembangan filsafat India terbagi menjadi periode Weda, Wiracarita, Sutra-sutra, dan Skolastik.

Pada masa perkembangan filsafat Islam hanya terbagi menjadi dua periode, yakni periode Muta-kallimin dan periode filsafat Islam.

Meskipun begitu, pada dasarnya periode yang penting pada sejarah peradaban manusia terjadi pada masa periode filsafat Yunani. Karena pada masa itulah, pola pikir manusia mengalami perubahan dari pikir mite menuju pemikiran rasional. Pola pikir mite merupakan pola pikir yang didasari mitos-mitos dari kejadian alam seperti pelangi dan gempa bumi.

Misalnya pada kejadian pelangi, orang zaman dahulu berargumen bahwa pelangi tercipta karena terdapat bidadari yang turun dari kahyangan. Namun sejak adanya ilmu filsafat, fenomena alam tersebut mampu dinyatakan secara ilmiah dan fakta. Hal itulah yang membuat sejarah periodisasi filsafat yunani merupakan loncatan untuk peradaban umat manusia, seperti berikut:

1. Zaman Pra Yunani Kuno

Pada zaman ini merupakan zaman di mana manusia masih memakai batu dan alat alami lainnya yang dijadikan sebagai alat penunjang hidup. Tepat memasuki abad ke-6 SM, lahirlah sebuah filsafat di Yunani.

Sama seperti bangsa lainnya, Yunani juga memiliki mitologi yang cukup luas sebagai perintis pendahuluan filsafat. Pemikiran mite-mite manusia seakan menjadi jawaban atas segala pertanyaan hidup manusia. Pemikiran mitole tersebut didapatkan untuk mencari asal-usul alam semesta, atau mite kosmogonis. Serta terdapat mite yang mencari sifat dari kejadian alam semesta atau mite kosmologis.

Bangsa yunani sangat berhutang budi kepada bangsa lain, karena pada saat itu ilmu pengetahuan sudah berkembang di wilayah timur kuno dan orang yunani menerima ilmu pengetahuan dari mereka. Hal itu dibuktikan bahwa sebagian besar ilmu ukur dan ilmu hitung berasal dari mesir dan babylona.

Memasuki abad ke-6 SM, banyak orang yang mulai mencari jawaban yang lebih rasional dari kejadian alam. Sebab itulah filsafat dilahirkan dan mengganti dari mythos menjadi Logos (akal budi). Dengan demikian ilmu filsafat muncul dan manusia sudah mulai memperhatikan berbagai keadaan alam yang dipercaya sebagai proses suatu alam

Zaman Yunani Kuno

Zaman Yunani kuno adalah zaman keemasan untuk perkembangan ilmu filsafat, karena pada masa itu setiap orang berhak mengeluarkan gagasan dan pendapatnya mengenai suatu hal. Pada masa itu, bangsa yunani dianggap sebagai gudang ilmu filsafat tanpa mempercayai mitos belaka. Bangsa Yunani juga tidak langsung mempercayai suatu pendapat, melainkan akan diselidiki secara kritis terlebih dahulu.

Bangsa yunani pada saat itu memiliki banyak tokoh terkenal yang ahli dalam bidang ilmu filsafat dengan pikiran yang kritis. Adapun tokoh yang terkenal saat itu diantaranya adalah:

  • Aristoteles (384-322 SM).
  • Plato (427-347 SM)
  • Socrates (469-399 SM)
  • Phytagoras (580-500 SM
  • Thales (625-545 SM)

Zaman Keemasan Filsafat Yunani

Zaman keemasan filsafat yunani tepat datang pada waktu Athena yang Perikles dalam kegiatan politik sehingga perkembangan ilmu filsafat meningkat. Pada saat itu tercipta komunitas bernama kaum sofis yang pandai berpidato untuk menyampaikan pengetahuan kepada anak muda lainnya.

Pada masa itu objek yang dijadikan penelitian untuk ilmu filsafat bukan lagi tentang alam, melainkan mengenai manusia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Prothagoras yang mengatakan bahwa ukuran dari segalanya terdapat pada diri manusia. Namun hal tersebut disanggah oleh Socrates yang mengatakan bahwa sesuatu yang dianggap baik dan benar harus dijadikan sebagai nilai objektif, sehingga semua orang harus menjunjung tinggi nilai tersebut. Socrates pun dihukum mati karena ucapannya tersebut.

Plato merupakan murid dari Socrates yang menemukan hasil pemikirannya. Plato mengeluarkan pendapatnya dalam filsafat bahwa: realitas terbagi menjadi dua dunia, yang pertama hanya terbuka untuk panca indera dan yang kedua hanya terbuka untuk rasio. Maksud dari hal tersebut, bahwa dunia yang pertama seperti dunia jasmani, dan yang kedua seperti dunia ide.

Namun pada saat itu, pendapat yang dikemukakan oleh Plato mendapatkan kritik dari Aristoteles yang menyatakan bahwa di dunia ini hanya ada manusia yang konkret, atau ide manusia yang tidak ada dalam kenyataan.

Aristoteles merupakan seorang tokoh filsuf realis yang memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sangat besar untuk perkembangan zaman. Bahkan sejak zaman keemasan ini, hingga sekarang sumbangan ilmu yang diberikannya masih digunakan oleh banyak orang untuk memperoleh pengetahuan.

Masa Helinitis Dan Romawi

Alexander Agung (359-323 SM) adalah kaisar Romawi yang berasal dari Macedonia di masa itu. Ia memiliki kekuatan militer yang sangat besar bahkan bisa menguasai Yunani, Mesir, dan Syria.

Pada masa itu, perkembangan ilmu filsafat tetap berjalan namun tidak terdapat tokoh filsuf yang besar kecuali seorang Plotinus. Pada zaman itu pula terdapat beberapa aliran baru yang bermunculan, diantaranya

1. Sinisme

Sinisme merupakan paham yang ditentukan oleh berbagai kuasa yang dikenal dengan Logos. Hal itulah yang menyebabkan segala sesuatu yang berlangsung berdasarkan ketetapan merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari. Aliran sinisme ini merupakan pengembangan yang berasal dari aliran Stoik.

2. Stoik

Aliran Stoik juga bisa dikenal dengan Monoisme. Aliran ini menolak pandangan Aristoteles mengenai Dualisme. Aliran ini menyatakan penangkalan mengenai adanya ruh dan materi.

3. Epikurime

Epikurime adalah aliran yang terdiri dari atom yang selalu bergerak. Setiap manusia harus memikirkan akibat atas segala tindakan yang dilakukannya. Aliran epikurime adalah aliran yang didapat dari pengembangan teori atom Democritus dan menjadi cara yang mujarab agar rasa takut mengenai tahayul hilang.

4. Neo Platonisme

Aliran Neo Platonisme adalah salah aliran yang dipakai untuk menghidupkan kembali filsafat dari Plato yang tokohnya adalah Plotinus. Pada filsafat aliran Neo Platonisme adalah ilmu yang berkisar pada Allah yang satu. Sehingga segala sesuatu berasal dari kesatuan tersebut dan akan kembali kepadanya.

Zaman Abad Pertengahan

Pada zaman abad pertengahan terdapat para teolog yang hadir di lapangan ilmu pengetahuan. Sehingga tak heran bila ilmuwan pada saat itu hampir merupakan seorang teolog. Sehingga pengkajian ilmiah terpusat mengenai aktivitas keagamaan. Selain itu, pada zaman ini juga masih terdapat penemuan di bidang ilmu lainnya.

Di periode abad pertengahan sangat berbeda dengan abad sebelumnya mengenai ilmu filsafat yang terletak pada dominasi agama. Disaat kerajaan romawi untuk, logika yang menjadi dasar peradaban kehidupan kehidupan itu diganti dengan logika keagamaan oleh gereja.

Zaman Renaissance

Zaman Renaissance terjadi yang ditandai oleh adanya kebangkitan dari pemikiran yang didasari dogma agama. Renaissance merupakan zaman peralihan yang masuk ke dalam budaya modern, sehingga manusia yang ada pada zaman ini kembali mendapatkan pemikiran yang bebas. Ilmu filsafat yang berkembang pada masa ini adalah bidang astronomi

Tokoh-tokoh yang terkenal pada zaman Renaissance diantaranya adalah, Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei.

Zaman Modern

Perkembangan zaman modern ini merupakan lanjutan dari ilmu di bidang ilmiah yang sudah mulai dirintis sejak zaman Renaissance. Tokoh yang terkenal dan dijuluki sebagai bapak filsafat modern adalah Rene Descartes (1596-1650). Ia adalah orang ahli yang ada dalam ilmu pasti.

Zaman Kontemporer (Abad Ke-20 Dan Seterusnya)

Berbagai ilmu filsafat yang dipikirkan, fisika merupakan bidang ilmu yang menduduki tingkat paling tinggi. Hal ini karena fisika dipandang sebagai dasar ilmu pengetahuannya membentuk alam semesta. Hingga hubungan ilmu fisika dengan filsafat secara historis terlihat menjadi dua cara

Yang pertama terlihat pada filosofis tentang metode fisika dengan interaksi berpandangan subtasional fisika. Contohnya, tentang kuasa, materi, waktu dan ruang. Yang kedua ada pada ajaran filsafat tradisional mengenai fenomena fisika tentang kuasa, materi, waktu dan ruang.

Di abad ke-21 pendapat sisi kawan terkenal yang bernama Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa kebesaran alam tidak ada batasannya, dan bersifat statis dari setiap waktunya. Bukan hanya pada bidang ilmu fisika dan teori alam semesta, di Zaman Kontemporer ini juga banyak ditemukan berbagai teknologi yang lebih canggih.

Penemuan teknologi informasi dan komunikasi inilah yang membuat kemajuan di dunia sangat pesat dan cepat. Penemuan dalam bidang teknologi diantaranya ada komputer, satelit komunikasi, dan sosial media atau internet lainnya.

Ciri-ciri Filsafat

ciri-ciri-filsafat

Clarence I. Lewis merupakan seseorang yang ahli dalam bidang logika mengemukakan pendapatnya, yakni bawah ilmu filsafat merupakan sebuah proses yang merupakan refleksi berdasarkan proses kerja akal sehat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan. Berikut ini merupakan ciri-ciri dari pemikiran filsafat yang diantaranya adalah:

1. Sifatnya Universal

Biasanya, pemikiran filsafat memiliki sifat yang universal atau umum serta tidak berhubungan dengan objek khusus lainnya. Misalnya seperti pemikiran mengenai manusia, kebebasan, keadilan, dan lain sebagainya.

2. Tidak Faktual

Ciri yang kedua dari filsafat yakni bersifat tidak faktual. Dalam hal ini karena adanya berbagai spekulatif yang menimbulkan dugaan mengenai suatu hal dengan masuk akal. Namun, tidak disertakan bukti karena telah melampaui batas dari berbagai fakta ilmiah.

3. Berhubungan Dengan Nilai

Menurut C. J. Ducasse yang mengemukakan pendapatnya bahwa, pengertian filsafat adalah suatu upaya yang dilakukan manusia untuk mencari pengetahuan secara fakta yang disebut penilaian. Sehingga penilaian yang dimaksud adalah suatu hal yang bersifat baik dan buruk, susila dan asusila. Yangmana pada akhirnya, filsafat merupakan usaha agar nilai-nilai didalamnya bisa dipertahankan.

4. Berhubungan dengan Arti

Hal ini sangat berhubungan dengan ciri filsafat pada poin no 3 yang menyatakan bahwa filsafat memiliki nilai. Nilai tersebut memiliki arti yang harus dipahami dengan kalimat ilmiah yang tepat serta masuk akal. Sehingga ide-ide yang dihasilkan syarat dengan arti.

5. Implikatif

Implikasi merupakan akibat yang ada dalam pemikiran filsafat. Dengan begitu, maka diharapkan bisa menciptakan pemikiran yang baru dengan sifatnya berubah-ubah atau dinamis dan mengembangkan intelektual.

Cabang-Cabang Filsafat

cabang-cabang-filsafat

Secara umum, berbagai ahli telah membagi berbagai bidang studi mengenai filsafat kedalam berbagai cabang. Berikut ini, merupakan cabang-cabang yang ada dalam filsafat, diantaranya adalah:

1. Epistemologi

Epistemologi merupakan bagian salah satu dari macam cabang filsafat mengenai pembahasannya mencakup ilmu pengetahuan. Contoh dari Epistemologi adalah, metodologi, validitas, asal mula, bentuk dan struktur yang akan membentuk buku ilmu pengetahuan

2. Metafisika

Metafisika adalah cabang filsafat yang terjadi berdasarkan hakikat fundamental dengan melalui proses analisis mengenai keberadaan atau realitas yang ada. Pada umumnya metafisika merupakan proses kajian yang didapat dari pertanyaan mengenai keberadaan sifat realitas dalam kajian tersebut.

3. Logika

Logika merupakan cabang filsafat yang berkaitan dengan pemikiran logis (masuk akal), tepat, teratur dan terarah

4. Etika

Etika merupakan cabang ilmu filsafat yang didalamnya berisi mengenai norma atau aturan, sebagai pedoman kehidupan dalam berperilaku di masyarakat dengan sifat baik atau sifat buruknya.

5. Estetika

Estetika merupakan cabang ilmu filsafat yang didalamnya membahas dan mempelajari mengenai suatu keindahan. Estetika adalah sebuah bentuk yang memiliki keindahan untuk manusia. Sifat keindahan tersebut harus bisa dirasakan dan disadari oleh setiap manusia.

6. Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang filsafat yang mempelajari ilmu pengetahuan dengan menjawab berbagai pertanyaan dari hakikat ilmu itu sendiri. Serta menjawabnya dengan mencari sumber permasalahan agar mendapatkan penjelasan yang baik dan sesuai.

Tujuan Filsafat

tujuan-filsafat

Filsafat mengenai tujuan tersendiri yang bisa membantu persoalan manusia. Berikut ini merupakan tujuan dari filsafat, diantaranya adalah:

  • Supaya sejarah mengenai perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan diberbagai bidang memberi banyak pelajaran
  • Supaya manusia lebih terdidik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan mampu menilai hal yang ada dalam kehidupan secara objektif
  • Supaya manusia bisa menjadi bijaksana untuk menjalankan kehidupannya selama di dunia.
  • Supaya manusia terhindar dari sifat egosentrisme dan berpandangan lebub luas.
  • Supaya manusia mampu berpikir, mempunyai pendapat, mandiri dalam hal keagamaan dan bisa bersikap kritis.
  • Supaya manusia bisa mendalami berbagai unsur ilmu pokok seperti, memahami hakikat, sumber, dan tujuan dari ilmu tersebut.
  • Supaya guru, siswa dan masyarakat yang sedang belajar mempunyai pedoman untuk mendalami ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang membedakan persoalan ilmiah maupun persoalan non-ilmiah.
  • Supaya ilmuwan lebih semangat untuk memperkembangkan pengetahuan dengan mencari kebenaran

Visi Filsafat

visi-filsafat

Ada beberapa visi dari filsafat, diantaranya adalah:

  • Pencegah

Sebagai suatu gambaran yang real mengenai ilmu filsafat.

  • Pengasah

Ilmu filsafat menuntut kita untuk mampu berpikir secara realistis atau masuk akal.

  • Penggerak

Ilmu filsafat bisa membawa perubahan atau gerakan untuk kita agar mampu melakukan sesuatu yang memiliki nilai positif dan bermanfaat untuk hidup.

Misi Filfasat

misi-filsafat

Filsafat memiliki misi seperti berikut ini,

  • Bisa menjadi pusat ide atau pemikiran yang dapat dikembangkan dan dipertanggungjawabkan
  • Mengembangkan lebih dalam mengenai ilmu filsafat dan teologi
  • Mampu menyelenggarakan lembaga pendidikan akademik yang membahas seputar ilmu filsafat dan teologi dalam dialog mengenai ilmu yang terkait
  • Ikut berkontribusi dalam kehidupan kultural, spiritual, dan intelektual bangsa.

Metode Filsafat

metode-filsafat

Metode filsafat merupakan cara yang dilakukan manusia untuk mendapatkan kejelasan mengenai ilmu filsafat tersebut yang berdasarkan dari gagasan dalam pikiran. Sehingga, manusia akan mendapatkan gagasan terbaik dari gagasan yang telah dikemukakan sebelumnya. Seiring perkembangan filsafat itu, maka metode filsafat pun kian berubah, namun bukan berarti bahwa perkembangan terbaru merupakan metode yang baik.

Karena, didalam filsafat tidak ada metode terbaik, melainkan sebuah metode tepat guna berdasarkan kebutuhan filsafat itu yang menentukan ke efektivitas filosofisnya tersebut. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai filsafat, berikut ini merupakan metode filsafat yang diurutkan berdasarkan kronologi sejarah di zamannya diantaranya adalah,

  • Metode Kritis

Seorang filosof yang menggunakan serta mengembangkan metode kritis ialah Plato dan Sokrates. Metode kritis merupakan analisa untuk menjawab serta menjelaskan beberapa keyakinan (jawaban) dan pertentangan dari pendapat yang disistematiskan.

Cara untuk menggunakan metode kritis, cukup gampang yakni hanya dengan menyisihkan, membedakan, membersihkan, menolak, dan bertanya mengenai suatu keyakinan atau gagasan ilmu filsafat. Dari cara-cara tersebut akan ditemukan keyakinan yang lebih baik, sehingga menjadi hakikat dalam ilmu filsafat.

  • Metode Filsafat Intuitif

Seseorang yang telah mengembangkan dan menggunakan metode filsafat intuitif adalah Bergson dan Plotinus. Metode filsafat ini tidak menggunakan logika dalam mencari kebenaran, atau bersifat nanti intelektual. Sehingga manusia lebih mempercayai fitrah yang sudah ada sejak zaman dulu.

Dengan adanya metode filsafat ini, membuat kita menjadi lebih semangat dan berfikir untuk menganalisis tanpa adanya paksakan untuk selalu menggunakan rasio dan logika. Hal ini memang agak sulit untuk dibayangkan, namun sedikit menarik jika dilakukan.

  • Metode Skolastik

Metode ini dianjurkan oleh Thomas Aquinas (1225-1247) dan berkembang di abad pertengahan. Berkembang ke masa klasik aristoteles juga menganut penggunaan metode ini. Metode Skolastik adalah metode yang sangat berhubungan dengan kegiatan mengajar.

Cara penggunaan metode ini dilakukan layaknya seorang guru/pengajar lainnya, membacakan pokok pembahasan ilmu filsafat yang pada akhirnya pokok bahasan tersebut diberi komentar atau penafsiran berbeda oleh filsuf lain. Sehingga akan menimbulkan pro dan kontra yang selanjutnya dibandingkan.

Proses tersebut seringkali disebut “lectio” yang diharapkan mampu mengeluarkan gagasan filsafat terbaik. Namun, bila belum bisa menemukannya, maka akan terjadi tahap “disputatio” yaitu perdebatan. Dengan begitu, semua topik bisa dipahami melalui istilah, kenyataan, dan ide yang dirumuskan dan dibedakan untuk menguji hal tersebut dari berbagai sisi.

  • Metode Filsafat Matematis

Metode filsafat matematis disebut oleh Descartes sebagai metode analitis. Beliau menyatakan bahwa terdapat aturan dan susunan alami yang nyata, serta sangat berhubungan dengan pengertian manusia. Penemuan susunan alam tersebut tidak mustahil akan terungkap.

Dalam metode ini diperlukan cara untuk melakukan empiris rasional agar penemuan tersebut bisa dipecahkan. Dalam metode ini diperlukan keahlian untuk menghindari kelemahan dari berbagai kelebihan analisa geometri, logika, dan aljabar.

  • Metode Empiris-Eksperimental

Pengaruh besar yang ada dalam metode ini berasal dari pengalaman hidup dengan penekanan data kesadaran yang dimiliki oleh setiap individu. Menurut metode ini, pengalaman merupakan bagian penting untuk mencari pengetahuan yang bisa dipercaya dibandingkan dengan menggunakan rasio.

Seseorang orang yang menyusun filsafat empirisme ini adalah David Hume (1711-1776). Hal yang membedakan antara metode ini dengan metode dekrates adalah cara eksperimen yang cukup ketat untuk mendapatkan kebenaran gagasan yang sejati.

  • Metode Transendental

Metode ini dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804) yang seringkali disebut dengan metode neo-skolastik. Pemikiran Kant mengenai metode ini menjadi loncatan baru untuk filsafat Barat. Dalam metode ini, mendamaikan atau menggabungkan dua aliran yang sangat jauh berbeda, yaitu rasionalisme dengan empirisme.

Di satu sisi ia masih mempertahankan pengertian, baik dalam keniscayaan maupun objektivitasnya, namun di sisi lain ia percaya bahwa pengertian didapatkan dari fenomena biasa yang tidak mungkin melampaui batas. Kant tidak menetapkan konsep tunggal, namun ia menyimpulkan pernyataan dan kesimpulan yang lengkap. Ia juga membedakan dua jenis pengertian yang di antaranya,

  • Pengertian analistis bersifat apriori, seperti pada ilmu pasti ;

Pengertian ini terbagi menjadi dua yaitu aposteriori singular merupakan pengalaman yang bersifat subjektif sedangkan apriori merupakan pengertian yang sifatnya universal. Contohnya:

Singular: “saya merasa dingin”

Apriori: “saya merasa hawa dingin -1 derajat celcius.”

Pada intinya, dalam metode ini bisa menerima nilai yang bersifat subjektif untuk memberikan kemajuan dan kebahagiaan sebagai teman aremania layang bersifat objektif berupa ilmu positif untuk kemajuan kehidupan sehari-hari. Sehingga hal ini tersebut akan membuat satu ananta sifat subjektif dengan objektif dalam semua bentuk.

  • Metode Dialektis

Tokoh yang menggunakan metode dialektis ini adalah George Willhelm Friedrich Hegel (1770-1831) atau yang lebih sering disebut dengan nama Hegel. Hal itu lah yang membuat metode ini sering disebut dengan nama Hegelian Method. pengaplikasiam metode ini diperlukan konsep yang jelas dan pengertian yang lazim.

Setelah itu kita mengambil sanggahan dari konsep atau pengertian yang lazim dan menarik kesimpulan untuk membentuk sintesis berdasarkan kedua hal tersebut. Untuk mendapatkan hakikat yang baik maka hasil sintesis tersebut akan menciptakan tesis lainnya.

  • Metode Fenomenologis

Metode ini bukanlah sebuah metode yang berasal dari fenomena alamiah yang bisa didapatkan dari observasi empiris. Melainkan fenomena yang ada pada metode ini merujuk pada makna bahasa Yunani yaitu phainomai yang artinya “yang terlihat.” Sehingga fenomena ini merupakan data yang jauh disadari dan sulit dipahami

Pada intinya, metode ini hanya melihat suatu hal yang bersifat objektif tanpa melihat bagian sisi subjektif seperti tekanan sosial, perasaan dan lainnya. Edmund Husserl (1859-1938) merupakan tokoh yang mempopulerkan metode fenomenologis ini.

  • Metode Filsafat Eksistensialisme

Heidegger, Sartre, Jaspers, Marcel dan Merleau-Point adalah para tokoh terkemuka yang menggunakan metode filsafat Eksistensialisme. Bagi para tokoh eksistensilisme mengungkapkan bahwa ia tidak menyetujui tekanan sikap objektif, melainkan sifat subjektivitas manusia yang seharusnya pertama kali dianalisa. Karena sangat mungkin terjadi bila terdapat sesuatu yang dianggap ada namun, tidak bisa “mengadakannya” tanpa adanya kontes yang membentuk sekitarnya.

Pembentuk konteks tersebut seperti, perasaan manusia, interaksi antara individu di dalam suatu kelompok, dan urusan atau kepentingan tertentu. Terdapat beberapa sifat yang ada pada metode filsafat eksistensialisme, diantaranya adalah:

  1. Sifat subjektivitas dari individual yang unik, bukan umum bukan pula objek.
  2. Memiliki keterbukaan terhadap dunia dan manusia lainnya bukan hanya teori melainkan internasionalitas dan praksis
  3. Bukan melakukan observasi, melainkan berdasarkan pengalaman yang berhubungan dengan dunia
  4. Berisi mengenai sejarah dan kebebasan, bukan berupa esensi yang tetap
  5. Analisa eksistensi yang dipakai dengan fenomenologi otentik dengan analisa teliti
  • Metode Analitika Bahasa

Tokoh yang mendominasi menggunakan metode analitika bahasa ini yaitu Wittgenstein. Sama halnya seperti banyak orang, ia menjadi termotivasi untuk mempelajari ilmu filsafat. Meskipun ilmu filsafat bisa dibilang membingungkan saat itu, namun ia justru semakin penasaran. Karena setelah menjalankan penelitian, ia melihat banyak kesalahan pada kebahasaan filosofis yang kacau dan rancu.

Sehingga ia mulai berpikir bagaimana caranya agar seseorang bisa memahami penggunaan bahasa untuk menyampaikan pernyataan, pertanyaan dan perbincangan dengan benar.

Metode ini menggunakan penelitian dengan membedakan berbagai permainan bahasa, sehingga bisa memperoleh keyakinan yang lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, penggunaan bahasa ditetapkan dengan aturannya masing-masing tanpa adanya kekeliruan dan kesalahpahaman karena makna yang rancu.

Cara Mengkaji Filsafat

cara-mengkaji-filsafat

Perkembangan ilmu filsafat menjadi sangat pesat karena kajiannya yang cepat dan tepat. Namun cara mengkaji ilmu filsafat bukanlah dengan bereksperimen atau melakukan percobaan, melainkan dengan mengutarakan permasalahan secara jelas dan langsung mencari solusi yang tepat dari masalah tersebut dengan memberikan argumentasi dan alasan.

Sehingga logika menjadi suatu hal yang sangat penting dalam penemuan ilmu filsafat, baik dari logika berbahasa maupun logika berpikir. Meskipun filsafat merupakan ilmu eksak namun tetap terdapat nuansa khas dari rasa ketertarikan, penasaran, spekulasi dan keraguan. Dengan begitu bahwa filsafat seperti perjalanan menuju ilmu yang tidak bisa berbentuk oleh ilmu lainnya.

Contoh Pemikiran Filsafat Untuk Kehidupan

Contoh penerapan pemikiran filsafat

Filsafat didapatkan berdasarkan akal pikiran manusia yang logis. Saat ini, cara berpikir filsafat sangat penting diterapkan dalam kehidupan nyata, berikut adalah contohnya:

1. Radikal

Pemikiran radikal yang dimaksud adalah kita harus mencari informasi hingga ke akar permasalahan. Hal tersebut agar kita tidak mudah tertipu dengan berita palsu.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

Ketika Anda diberitahu oleh seseorang, bahwa Anda telah dibicarakan dan dijelek-jelekkan oleh orang lain. Sebaiknya anda tidak langsung mempercayai hal tersebut. Dalam artian Anda harus mencari informasi lebih lanjut mengenai kebenarannya.

Jika kenyataannya Anda memang betul dibicarakan dan dijelek-jelekkan orang lain di belakang, maka Anda tidak perlu langsung marah seketika. Yang harus Anda lakukan adalah intropeksi diri, mungkin saja Anda pernah membuat kesalahan yang tidak Anda sadari. Dengan begitu, Anda bisa memperbaiki diri menjelang yang lebih baik lagi.

Namun bila ternyata pemberitahuan yang Anda dapatkan tidaklah benar, atau sengaja diberitahukan untuk mengadu domba, maka yang harus anda lakukan adalah dengan menegur seseorang yang memberitahu kabar tersebut. Dengan mencari informasi yang sebenarnya, maka kita akan jauh dari berita bohong yang menyesatkan.

2. Kritis

Berpikir kritis merupakan suatu tanggapan mengenai permasalahan. Kritis merupakan sikap, pikiran dari ilmu filsafat yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari contohnya:

Ketika sedang melaksanakan ujian, maka kita harus memahami isi soal tersebut sebelum menjawabnya. Setelah berpikir dan menemukan jawaban tulislah ke dalam bentuk coretan. Koreksi kembali jawaban yang telah ditulis, dan ketika yakin dengan jawaban tersebut maka kita bisa memindahkannya ke dalam lembar jawaban. Periksa kembali isi soal tersebut jangan sampai ada soal yang terlewati dan tidak dijawab.

Dalam menghadapi persoalan, kita perlu menggunakan pikiran kritis agar persoalan tersebut bisa diselesaikan dengan baik.

3. Rasional

Rasional merupakan suatu cara berpikir yang masih bisa ditangkap dengan akal pikiran manusia. Dalam hal ini seseorang akan bersikap dan bertindak sesuai dengan logika yang dimiliki. Contoh dari pemikiran rasional dalam kehidupan:

Ketika Anda selalu mengeluh mengenai kemiskinan dan kebodohan, maka Anda harus berpikir secara rasional. Sehingga anda tahu apa penyebab dari kedua masalah tersebut dan solusi untuk mengatasinya. Untuk mengatasi kemiskinan maka Anda harus bekerja keras dan mengatasi kebodohan Anda harus belajar dengan pendidikan tinggi.

4. Reflektif

Reflektif merupakan cara untuk menghadapi situasi dengan mencerminkan pengalaman dalam hidup yang sudah dialami. Dengan begitu kita akan reflek menerapkan sikap berdasarkan pengalaman, contoh penggunaan reflektif dalam kehidupan:

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya telah menemui banyak orang yang beragam sifat dan sikapnya. Dengan begitu maka saya bisa menghadapi teman baru yang berasal dari berbagai daerah, suku, agama, serta karakter yang berbeda. Sehingga saya bisa dengan mudah berbaur dan berteman dengan siapapun dan dari kalangan manapun.

5. konseptual

Konseptual merupakan hasil untuk menjawab persoalan menggunakan kontruksi pemikiran yang logis. Contoh penerapan konseptual dalam kehidupan sehari-hari:

Ketika mengerjakan tugas atau ujian, maka kita tidak harus menjawabnya langsung berdasarkan satu sumber, melainkan kita harus mencari sumber lainnya. Setelah itu kita harus pintar membaca, memahami dan membandingkan diantara tersebut hingga akhirnya mendapatkan jawaban yang terbaik dan logis.

6. Koheren

Koheren merupakan cara untuk menghadapi persoalan dengan mencari pokok permasalahan tersebut secara berurutan. Persoalan yang harus dihadapi misalnya persoalan academy, individu, maupun organisasi. Pertama-tama kita harus mencari penyebab dari persoalan yang terjadi kemudian menyimpulkan solusi untuk menyelesaikannya.

7. Konsisten Dan Komitmen

Konsisten dan komitmen merupakan dua hal yang paling berhubungan. Karena untuk menghadapi persoalan kita harus melakukannya secara konsisten atau berkelanjutan dan komitmen atau pemikiran yang kuat dan tidak berlawanan. Contoh dari penerapan komitmen dan konsisten adalah

Ketika kita mendapatkan tugas atau ujian makkah kita harus mengerjakannya secara konsisten atau terus-menerus dilakukan. Dan berkomitmen pada diri sendiri bahwa jawaban atas soal-soal tersebut harus berasal dari kejujuran. Dengan begitu maka kita akan mengetahui kemampuan yang kita miliki dalam menjawab soal ujian tersebut.

8. Sistematis

Dalam hal ini, sistematis yang dimaksud adalah masalah yang paling berkaitan atau memiliki hubungan sebab akibat. Sehingga Anda harus berpikir terlebih dahulu mengenai dampak dari perlakuan yang Anda lakukan. Contohnya:

Di dalam dunia perkuliahan, kita harus saling menjaga dan toleransi dengan teman, dosen, dan para akademisi lainnya. Hal tersebut guna menjaga keharmonisan dalam lingkungan perkuliahan. Jika sikap saling menjaga dan toleransi tersebut tidak dilakukan, maka bisa menyebabkan timbulnya masalah dan kurang lancarnya pembelajaran di perkuliahan.

9. Metodis

Metodis merupakan cara yang dilakukan untuk mendapatkan suatu kebenaran. Contoh penerapan perlakuan metodis dalam kehidupan sehari-hari:

Ketika Anda memiliki seorang teman yang sedang mempunyai masalah dengan orang lain maka, anda bisa mendekatinya untuk mendapatkan kebenaran dari permasalahan tersebut. Dengan begitu Anda menjadi tahu, apa motif dan tujuan permasalahan yang sedang teman Anda alami. Sehingga Anda bisa menarik kesimpulan dari permasalahan tersebut dan membantu teman Anda untuk menyelesaikan masalah di antara kedua belah pihak yang bersangkutan.

10. komprehensif (Menyeluruh)

Komprehensif merupakan cara untuk menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Contoh penerapan komprehensif dalam kehidupan:

Dalam perkuliahan, seringkali kita memiliki kelompok yang di dalamnya terdapat pengurus serta anggota. Setiap kelompok pasti memiliki kualitas dan kemampuan yang berbeda-beda berdasarkan kelasnya masing-masing. Ketika mendapat sebuah acara academy, maka masing-masing kelompok tersebut akan bersatu demi menjalankan keharmonisan serta mencapai tujuan bersama. Sehingga ketika terjadi diskusi, setiap individu akan mendapatkan pemahaman yang menyentuh.

11. Bebas Dan Bertanggung Jawab

Bebas dan bertanggung jawab merupakan perilaku yang sangat penting diterapkan dalam kehidupan. Kedua hal tersebut sangat berkaitan, dengan maksud kita bebas melakukan apapun asal bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya:

Sederhananya, ketika kita sedang memilih ketua organisasi kak berhak atau bebas untuk memilih siapa pun dari kandidat calon tersebut. Jika kandidat yang kita pilih ternyata menang, maka kita harus mematuhi segala aturan yang dibuatnya. Namun, ketika pilihan kita ternyata gagal maka kita harus menerimanya dengan lapang dada dan tetap mengikuti peraturan yang dibuat. Dengan begitu kita telah mempertanggungjawabkan hasil dari apa yang kita pilih.

Dari berbagai pembahasan yang telah dijelaskan, bisa disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu dari kemampuan akal yang berhubungan dengan penentuan kebenaran mengenai hakikat suatu hal. Bukan hanya ilmu mengenai alam dan manusia, melainkan terdapat pengetahuan budaya dan agama

Itulah beberapa pengertian filsafat baik secara umum maupun menurut para ahli. Bukan hanya itu, ilmu filsafat juga memiliki sejarah yang cukup panjang sehingga sangat berguna untuk referensi pengetahuan saat ini.


Baca juga:

Content Protection by DMCA.com